Archive for the 'Opini' Category

May 02 2008

Tut Wuri Handayani

Published by kangbas under Opini

Pagi tadi sebagai seorang “cantrik yang taat” saya ikut upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tidak seperti upacara yang lain, hari ini pesertanya cukup banyak sampai meluber ke jalanan. Denger-denger gosip, mereka itu takut ditegur pimpinannya jika tidak ikut upacara Hardiknas. Lha wong kalangan pendidikan kok tidak upacara Hardiknas. Saru katanya.

Saya tidak tau dalam benak pikiran mereka. Apakah mereka ikut upacara benar-benar karena kesadaran, atau semata-mata dilandasi rasa takut pada pimpinannya. Bagi saya, melaksanakan sesuatu itu adalah kesadaran. Melaksanakan karena kemauan sendiri, bukan karena orang lain. Tapi mungkin bagi banyak orang ndak begitu pikirannya. Kalau ndak disuruh ya belum tentu mau. Lha disuruh saja kadang-kadang tidak melaksanakan..

Aneh. Orang-orang yang katanya harus digugu lan ditiru, jadi panutan dan teladan, memiliki sikap mental semacam itu. Kalau yang jadi panutan saja bermental semacam itu, lha gimana dengan anak didik mereka?

Kalau dulu Ki Hajar Dewantoro, mendidik bangsa dengan falsafah:

Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri Handayani

Ringkasnya, (para guru itu) jika didepan memberi teladan, jika ditengah ikut berkarya, jika dibelakang memberi dukungan.

Namun seperti biasa, hampir setiap slogan, falsafah, atau konsep kearifan apapun, hanya masuk telinga kanan keluar telinga kanan. Ndak nyantol blas, di dalam otak. Amis-amis lambe, hanya manis di mulut kata orang Jawa.

Saya jadi ingat logo Departemen Pendidikan, yang ada tulisan Tut Wuri Handayani. Saya ndak ngerti, mengapa hanya petikan kalimat terakhir saja yang diadopsi oleh Diknas. Saya juga ndak tau siapa dulu yang merancang logo itu. Apakah hanya sebagian falasah itu saja yang penting? Dua kalimat awal ditinggalkan, karena jika mau disadari, dua kalimat awal itu lebih berat makna dan konsekuensinya.

Ing ngarso sung tulodo. Menjadi teladan, berada didepan, kelihatan, dan ditonton orang banyak. Istilah modernnya INOVATOR.
Penjadi contoh teladan memang tidak mudah. Yang namanya contoh, idealnya ya tidak boleh salah. Kalau contohnya salah, yang dihasilkan ya lebih parah. Wah abot iki. Berat memang.

Ing madyo mangun karso. Menjadi kawan seiring dalam berkarya. Istilah modernnya DINAMISATOR.
Ingat, kawan seiring lho, bukan jadi mandor! Artinya ya saling belajar, saling membantu. Setara. Lha jaman sekarang ini apa ya mau terima duduk sejajar. Sopo siro sopo ingsun. Lha emange kowe sopo. Memangnya kamu ini siapa. Yang namanya guru itu ya duduk manis. Yang namanya cantrik itu ndeprok sendiko dawuh, duduk dibawah menerima perintah. Ndak diperintah ya diam saja.

Tut wuri handayani. Menjadi pendukung dalam berkarya. Memberi semangat saat tak berdaya. Tapi posisinya berada di belakang. Istilah modernnya MOTIVATOR.
Nah, kadang falsafah ini dimaknai dengan sempit. Duduk manis di belakang. Menjadi penonton yang baik. Yang ditonton (dididik) mau jumpalitan, mau sukses, mau dapat pekerjaan, ndak penting. Yang penting kewajiban sebagai suporter sudah dipenuhi.

Atau… jangan-jangan cuma saya yang mimpi terlalu jauh? Jangan-jangan justru mereka yang lebih “bisa memahami” visi departemen untuk Tut Wuri Handayani (saja) ?

Mas.. mas… bangun… upacara sudah selesai….

Eeh, saya terbangun sambil terkaget-kaget. Lapangan upacara sudah kosong melompong. Peserta sudah bubar semua. Ternnyata saya tertidur sambil mimpi saat upacara…

Tut Wuri Handayani, Barise Mburi Bubare Keri
(barisnya belakangan, pulangnya ketinggalan)

6 responses so far

Apr 27 2008

Freeman yang bukan Preman

Published by kangbas under Opini

Freeman. Dari kata inilah muncul istilah preman. Istilah preman selalu terkait dengan konotasi negatif. Penjahat, brutal, kriminal. Namun freeman bukanlah preman.

Menurut Wiki, freeman adalah “one who is not a serf or slave“. Seseorang yang bukan menjadi pelayan atau budak. Seseorang yang menjadi tuan atas dirinya sendiri. Seseorang yang merdeka.

Suatu situasi atau status dimana setiap orang pasti mengidamkannya. Termasuk saya. Situasi dimana seseorang bebas mengekpresikan dirinya. Bebas berkarya. Bebas beraktualisasi diri. Bebas menentukan langkah nasib kehidupannya. Sounds good….

Namun, apa itu bebas? Apa itu kebebasan? Apakah ada kebebasan absolut bagi seorang manusia?

Bagi saya yang bermimpi menjadi freeman, kebebasan adalah tanggungjawab. Kebebasan bukanlah sebuah hak. Kalau saya sudah berteriak, atau membubuhkan stempel bebas pada jidat saya, maka semenjak itulah rantai tanggungjawab membelit leher saya. Bebas, tapi tidak bebas.

Jika saya sudah berani menyatakan bebas untuk berekspresi, maka saya harus mampu menunjukkan karya saya. Karya yang bermanfaat bagi semua orang. Bukan karya yang hanya memuaskan hasrat diri sendiri.
Jika saya sudah berani gagah beraktualisasi diri, maka saya harus mampu merubah nasib. Nasib untuk orang banyak, bukan hanya nasib diri sendiri.

Fly like a bird. Burung bebas terbang ke langit, kemana saja dengan sayap yang dianugerahi oleh Tuhan. Namun burung tak pernah lupa untuk kembali ke darat. Tak lupa untuk menyebar biji-bijian sembari mengisi perutnya. Tak lupa untuk mematuki serangga-serangga hama di sawah ladang.

Flow like a water. Air dianugerahi keleluasaan bentuk, untuk mengalir kesegala arah. Mengisi kesegala celah, ceruk, retakan. Menguap, melayang di atmosfer paling tinggi. Dingin membeku di bumi paling ujung. Namun air tak pernah lupa untuk memuaskan dahaga mahluk lain. Tak pernah lupa untuk menumbuhkan sekeping biji ditengah gersang padang pasir.

Saya belumlah menjadi seorang freeman. Masih menjadi seorang pelayan atau bahkan budak untuk banyak orang. Namun setidaknya saya selalu berharap dan berdoa, sendainya nasib saya selalu menjadi budak, setidaknya bukan sebagai budak yang sombong dan lupa daratan…

No responses yet

Apr 09 2008

Knowledge Belong The World

Published by kangbas under Opini

Pengetahuan untuk dunia. Knowledge Belong The World.
Adalah suatu kalimat yang diucapkan oleh seorang teman baru saya. Terlontar pada obrolan ngalor-ngidul di suatu malam. Meskipun sebenarnya secara konsep bukanlah merupakan hal yang baru, namun kalimat itu kembali menghentak nurani.

Pada hakikatnya pengetahuan atau knowledge merupakan suatu anugerah bagi manusia. Manusia dianugerahi otak, akal dan pikiran. Dengan modal yang dipinjami oleh Tuhan inilah manusia mengembangkan pengetahuan. Praktis dalam hal ini Tuhan ikut memiliki “saham” dalam pengetahuan, meski sebenarnya pengetahuan itu sendiri pada hakikatnya milik Tuhan.

Lalu apakah masih pantas bagi sesosok manusia untuk meng klaim bahwa suatu pengetahuan adalah milik dirinya sendiri? Milik sekelompok orang? Dengan absolut membubuhkan cap COPYRIGHT atas pengetahuan itu? Iya, memang, adalah pantas bagi sesorang untuk mendapat “imbalan” atas jerih payahnya dalam menggali pengetahuan. Mungkin pantas baginya untuk menarik beberapa keping uang sebagai biaya atas transfer pengetahuan yang digalinya.

Tapi, ingatkah manusia, berapa lembar uang yang telah dia bayar kepada Tuhan, untuk modal dasar yang telah diberikanNya? Berapa harga otak yang seharusnya kita bayar? Kalau kita mau adil, tentu kita harus berbagi keuntungan dari “perdagangan” pengetahuan yang kita dapatkan kepada pemilik modal, yaitu Tuhan.

Namun, Tuhan Maha Kaya. Amat sangat kaya. Tuhan tidak akan pernah miskin meskipun kita ngemplang tidak berbagi keuntungan denganNya. Tuhan Amat Arif, membiarkan kita kaya dengan modal yang diberikannya.

Lalu balasan apakah yang pantas dan selayaknya kita lakukan, untuk membayar Tuhan Yang Maha Kaya? Mudah saja. Berbagilah pengetahuan yang kita dapatkan secara gratis dari Tuhan. Bagikanlah pengetahuan kita kepada semua orang, dengan harga sangat murah atau bahkan gratis. Seperti murahnya dan gratisnya Tuhan memberi modal pengetahuan kepada kita.

3 responses so far