Apr 27 2008

Mengasah Paku Jadi Jarum

Published by kangbas at 22:19 under Renungan

Putu Wijaya, Mengasah Paku Jadi Jarum
Kompas, Minggu, 27/4/2008 | 23:57 WIB

Tahukah Anda, bagaimana proses yang dijalani Putu Wijaya hingga menjadi teaterawan, sutradara teater dan film dan penulis hebat seperti sekarang ini?

Katanya, dia terinspirasi oleh sebuah cerita China yang dibacanya semasa duduk di bangku SMP. Buku itu berkisah tentang percakapan antara seorang pemuda dan seorang tua yang mengasah paku menjadi jarum.

Alkisah, pada suatu hari pemuda yang sekolah di kedokteran itu bertemu dengan Pak Tua yang sedang mengasah paku. “Aku sedang mengasah paku menjadi jarum,” kata Pak Tua menjawab pertanyaan Si Pemuda, seperti ditirukan pimpinan Teater Mandiri itu dalam acara Dialog Budaya di Universitas Tidar Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (26/4).

“Semenjak itulah, sang pemuda belajar giat, segiat Pak Tua yang mengasah paku menjadi jarum. Beberapa tahun kemudian, pemuda itupun menjadi dokter,” urai Putu yang menyampaikan materi dialognya dengan cara monolog.

Sebagai ungkapan terimakasih, dokter muda itu pun membawa segepok uang untuk Pak Tua yang menurutnya telah turut andil menyokong semangat belajarnya hingga ia mencapai gelar dokter.

Alangkah kagetnya si pemuda tatkala Pak Tua tidak merasa pernah menyemangati si pemuda dengan falsafah “mengasah paku menjadi jarum.” Dahsyatnya lagi, ternyata Pak Tua juga tak mau menerima uang dari si pemuda,” sambung Putu.

Nah, menurut Putu, guru yang baik adalah guru yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah guru. “Guru semacam inilah yang dibutuhkan Republik ini,” ujar Putu Wijaya, menutup pembicaraannya.

2 Responses to “Mengasah Paku Jadi Jarum”

  1. MazAmryon 29 Oct 2010 at 11:40

    wew….mantabs…

  2. pianon 14 Mar 2011 at 16:23

    wah wah wah, mantap pake jaya pak

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply