Apr 28 2008

IRPS: Rumah baru, keluarga baru, kegilaan lama

Published by kangbas at 12:25 under Kereta Api, Semarang

Rapat IRPS di Stasiun Poncol

Setelah bertahun-tahun menjadi gelandangan gila sepur kluthuk, akhirnya di hari minggu kemarin, saya diterima di rumah dan keluarga baru. Pak Tjahjono, bapak yang energik dan unik ini mengajak saya untuk bergabung dengan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Semarang . Bukan hal yang mendadak, karena sebenarnya sudah lama saya mendengar dan ingin masuk rumah ini. Ndilalah saja ada kesempatan untuk bertemu. Ndak enak rasanya bertahun-tahun menggelandang, gila sepur kluthuk sendirian. Biasanya kalau banyak orang gila berkumpul, terus dianggap waras-waras saja. Kalau tetep sendirian ya terus saja dianggap gila..

Di keluarga ini berkumpul orang-orang yang gila dengan segala tetek bengek sepur kluthuk. Apa saja yang berbau-bau kereta api pasti bikin mereka kedanen. Bicara soal gila, sebenarnya cukup lama saya gila dan punya beberapa keluarga gila. Beberapa tempo saya ngedan bersama keluarga SBI-info. Dan jauh sebelumnya sudah edan duluan dengan gerombolan linux. Untuk keluarga yang itu, akan saya ceritakan tersendiri, nanti kalau pas tidak kumat gilanya.

Biasanya sehari-hari telinga saya dipenuhi suara kicauan, karena kegilaan dengan burung di alam. Atau paling tidak ya suara gemeretak keyboard dan dengungan cpu fan. Nah, kemarin itu gantian telinga saya dipenuhi gemuruh lokomotif dan denting rel kereta. Bukan suara yang asing sebenarnya. Suara yang sudah cukup akrab sejak masa kecil, yang kini dicoba untuk dibangkitkan lagi.

Ngobrol di emplasemen Stasiun Poncol. Panas, sumuk, berisik. Tapi ya enjoy saja. Lha wong namanya juga orang gila. Selesai bagian yang serius-serius, diakhiri dengan trainwatching (istilah saya dewe). Kebetulan di Stasiun Poncol ini sebagai tempat tidurnya Simbah BB200 yang legendaris. Hampir 20 tahun lebih saya tidak pegang-pegang si ijo kuning ini. Kangen..

Anggota IRPS Semarang dan BB200 di Stasiun Poncol

Ternyata di kalangan railfans ini ada juga yang mirip twitcher kalau di kalangan birdwatcher. Senin pagi saya dapat sms dari Mas Dedi, kepala keluarga IRPS Semarang.

“Mau hunting foto gak? Ada kereta istimewa mau liwat. Ini kesempatan jarang untuk melihatnya lewat jalur Semarang…”.

Weleh, twitching banget. Tapi ya ndak pa pa, namanya juga suka. Saya sendiri biasanya juga suka begitu kalau dapat info baru tentang burung.

5 Responses to “IRPS: Rumah baru, keluarga baru, kegilaan lama”

  1. Tjahjono Rahardjoon 02 Aug 2008 at 06:11

    Pak Bas,
    Terimakasih telah mengunjungi blog saya. Terimakasih juga untuk komentarnya. Saya akan coba buat semua tulisan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Saya sudah mulai dengan tulisan terakhir tentang NIS 1, lokomotif pertama di Indonesia.
    Salam,
    Tjahjono

  2. Deddy Herlambangon 16 Aug 2008 at 23:02

    memang hebat pak Bas ini, bisa urus burung n keretapi…

    Salam sepur,
    Deddy

  3. mellyon 14 Nov 2008 at 13:31

    gimana caranya ye nak jadi orang gila?

  4. wahidon 31 Dec 2008 at 07:22

    Betul juga ya, wong edan kumpul wong edan dadi waras, sing waras malah dadi sing edan.

  5. menthoon 23 Jan 2009 at 22:02

    perasaan ndisik mung gendheng moto (fotografi - red), koq saiki gendhenge tambah yo…..
    gendheng manuk-manukan, gendheng sepur-sepuran…….
    ngerti ngono wingi ning jepang tak golekno miniatur sepur kluthuk…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply